LISBON – Kemenangan telak dicatatkan Paris Saint-Germain (PSG) kala menghadapi RB Leipzig pada Semifinal Liga Champions 2019-2020, Rabu (19/8/2020) dini hari WIB. Hasil positif itu sukses mengantarkan Les Parisien lolos ke Final Liga Champions 2019-2020.
Performa menawan ditunjukkan PSG sejak awal pertandingan. Anak asuh Thomas Tuchel sudah unggul pada menit 13 lewat sundulan Marquinhos. Setelah itu, mereka menambah dua gol lagi lewat Angel di Maria dan Juan Bernat.
PSG boleh saja mencetak sejarah, tetapi ada beberapa hal lain yang diperbincangkan dari laga tersebut. Berikut ulasannya, dilansir dari Sportskeeda, Rabu (19/8/2020).
5. Christopher Nkunku gagal lukai mantan tim
Setelah nyaris satu dekade berseragam PSG, mulai dari tim akademi hingga utama, Christopher Nkunku meninggalkan Kota Paris pada musim panas 2019. Mahar senilai 11,7 juta poundsterling (setara Rp228 miliar) ditebus RB Leipzig untuk penyerang berusia 22 tahun itu.
Kinerjanya cukup mengilap sepanjang musim ini dengan mengemas lima gol dan mengukir 15 assist dari 32 penampilan. Sayangnya, penampilan Nkunku kala menghadapi PSG justru di bawah standar. Ia gagal memberikan kontribusi dan diganti pada jeda antarbabak.
4. Kombinasi Neymar-Mbappe
Kylian Mbappe sukses menjadi katalisator laga ketika PSG menghadapi Atalanta pekan lalu. Dampak yang diberikan sungguh luar biasa karena timnya bisa berbalik menang 2-1. Kali ini, pemain berusia 21 tahun itu merumput sejak awal sebagai trisula dengan Neymar Jr dan Angel di Maria.
Sayangnya, kombinasi Kylian Mbappe dan Neymar Jr yang sudah ditunggu-tunggu malah mandek. Keduanya sama-sama gagal memanfaatkan peluang untuk mencetak gol. Untung saja, ada pemain lain yang bisa menutupi kekurangan itu untuk meraih kemenangan.
3. Tuchel menangi adu taktik lawan Nagelsmann
Dua arsitek tim berpaspor Jerman duduk di bangku cadangan. Kebetulan, hubungan keduanya bagaikan murid dan guru. Thomas Tuchel adalah orang yang pertama kali merekomendasikan Julian Nagelsmann untuk mengambil kursus kepelatihan.
Formasi 4-3-3 yang diturunkan Tuchel lebih moncer dibandingkan 4-5-1 yang dimainkan Julian Nagelsmann. Satu-satunya yang tidak bekerja dengan baik dari taktik tersebut adalah tumpulnya kreativitas serangan RB Leipzig. Andai tidak, maka Nagelsmann bisa saja mengalahkan sang guru.
2. Pertunjukan kelas dunia Angel di Maria
Kehilangan sosok Di Maria begitu dirindukan PSG saat melawan Atalanta. Mereka hanya mengandalkan Neymar Jr seorang ketika mendobrak pertahanan La Dea. Ketika Di Maria tampil, aliran bola PSG menjadi lebih hidup dan tidak mengandalkan seorang pemain saja.
Orang Argentina itu sukses melepaskan dua assist dan mencetak satu gol saat menghadapi RB Leipzig. Penampilan itu berbuah penghargaan sebagai pemain terbaik. Andai Di Maria bisa mempertahankan penampilannya, bukan tidak mungkin PSG sanggup menjadi juara.
1. PSG akhirnya ke Final Liga Champions
Penantian PSG untuk menapaki babak final akhirnya tuntas. Setelah menunggu selama 25 tahun, Les Rogue et Bleu akhirnya tampil pada Final Liga Champions. Ini adalah kesempatan pertama sejak klub berdiri pada 1970.
Selama ini, PSG seperti terkena kutukan tidak bisa melangkah jauh di Liga Champions. Kutukan itu sempat dipatahkan ketika lolos pertama kalinya ke Semifinal Liga Champions sejak 1994-1995. Itu saja belum cukup, PSG ingin mencetak sejarah dengan menapaki partai final untuk pertama kalinya.
Ambisi itu berhasil dipenuhi. Kini, mereka sedang menanti lawan di babak final. Sekadar informasi, Liga Champions biasanya kurang ramah untuk tim debutan di partai puncak. Andai menghadapi Bayern Munich pada Senin 24 Agustus 2020 dini hari WIB, PSG bisa saja kesulitan luar biasa.
[ad_2]
5 Fakta Menarik Kemenangan 3-0 PSG atas Leipzig, Nomor 1 Cetak Sejarah di Liga Champions was last modified: September 20th, 2020 by MABOSWAY