Liverpool Lebih Lapar di Final Liga Champions Musim Ini

[ad_1]

LIVERPOOL – Legenda Liverpool, Xabi Alonso, menyebut The Reds –julukan Liverpool– punya rasa lapar lebih besar dibandingkan Tottenham Hotspur di final Liga Champions 2018-2019. Pasalnya, Liverpool sudah merasakan pahitnya kekalahan pada partai puncak musim lalu dari Real Madrid.

Madrid jadi penghancur mimipi Liverpool untuk meraih trofi pada musim lalu. Tim asuhan Zinedine Zidane itu secara luar biasa meluluhlantakkan Liverpool yang musim lalu sejatinya juga tampil impresif.

Liverpool (Foto: Premierleague)

Liverpool takluk 1-3 dari Madrid berkat gol-gol yang dibuat Karim Benzema (51’) dan Gareth Bale (64’ dan 83’). Sementara itu, Liverpool hanya bisa membalas lewat aksi Sadio Mane pada menit 55.

BACA JUGA: Final Liga Champions Musim Ini Kental dengan Aroma Inggris

Pengalaman pahit musim lalu telah membuat Liverpool lebih berhasrat untuk menjuarai Liga Champions musim ini. The Reds pun dipastikan tampil lebih apik karena memiliki skuad dengan kedalaman yang baik musim ini.

Selain itu, Liverpool pun amat berpengalaman di laga sebesar final Liga Champions. Liverpool tercatat sudah tampil di delapan partai puncak Liga Champions yang lima di antaranya berakhir dengan gelar juara.

Georginio Wijnaldum (Foto: Premierleague)

Sementara itu, final Liga Champions musim ini merupakan yang pertama untuk Spurs sepanjang keikutsertaan mereka. Faktor pengalaman diyakini akan lebih menguntungkan Liverpool pada laga yang akan berlangsung di Stadion Wanda Metropolitano, Spanyol, Minggu 2 Juni 2019, dini hari WIB.

“Kekalahan tahun lalu mungkin memberi mereka (Liverpool) lebih banyak rasa lapar jadi motivasi musim ini bisa lebih baik dan mereka memiliki pengalaman. Apa yang mereka raih, dengan dua final dalam dua tahun beruntun, tidak dapat dipercaya dan saya sangat terkesan dengan penampilan mereka,” ujar Alonso, seperti yang dikutip dari Liverpool Echo, Sabtu (1/6/2019).

“Apa yang telah mereka lakukan adalah sesuatu yang besar, sukses besar. Ini bukan hanya hasil, itu soal energi di sekitar klub pada departemen yang berbeda dan suasana hati para pendukung. Itu sukses,” pungkasnya.

[ad_2]