Jika Pecat Sarri, Juventus Lakukan Tindakan Bodoh

[ad_1]

TURIN – Rumor pemecatan Maurizio Sarri sebagai pelatih Juventus terus berhembus kencang dalam beberapa hari terakhir. Mantan gelandang Si Nyonya Tua, Marco Tardelli, klub bertindak bodoh jika memecat pelatih berpaspor Italia itu.

Nasib Maurizio Sarri selaku pelatih Juventus berada di ujung tanduk. Kelanjutan kariernya di Allianz Stadium bergantung pada hasil laga Juventus vs Olympique Lyon di leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2019-2020, Sabtu (8/8/2020) dini hari WIB.

Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan dalam posisi tertinggal 0-1 secara agregat. Andai gagal membalikkan keadaan dan tersingkir, bukan tidak mungkin Maurizio Sarri langsung diberhentikan dalam waktu dekat. Padahal, pelatih berusia 61 tahun itu sukses mempersembahkan trofi Liga Italia 2019-2020.

Baca juga: 3 Penyebab Sarri Segera Dipecat Juventus, Apa Saja?

Maurizio Sarri segera tinggalkan jabatan sebagai pelatih Juventus (Foto: Reuters)

Gelar scudetto dianggap belum cukup karena Juventus sudah begitu rindu mengangkat trofi Liga Champions yang terakhir kali dimenangi pada 1995-1996. Marco Tardelli mengakui, tersingkir dari Liga Champions memang sebuah bencana. Namun, klub tidak perlu bertindak bodoh dengan memecat Sarri.

“Tersisih dari babak 16 besar akan menjadi bencana buat siapa saja, tidak hanya Sarri. Bagaimana pun juga, akan sangat bodoh jika mengganti pelatih. Sarri memenangi scudetto dengan skuad yang tidak cocok dengan filosofinya. Oleh karena itu, ia pantas mendapat kesempatan kedua,” papar Marco Tardelli, dikutip dari Football Italia, Sabtu (8/8/2020).

“Sarri berhasil menjadi juara. Dia tidak menang dengan gayanya sendiri, tetapi bisa menang. Harus diingat juga, tim ini tidak simetris. Saya penasaran melihat Sarri dengan pemain-pemain pilihannya,” sambung pria berkebangsaan Italia itu.

Maurizio Sarri memang mewarisi skuad peninggalan Massimiliano Allegri yang bercokol sejak 2014. Sebagian besar pemain direkrut di bawah sang pendahulu sehingga kurang cocok dengan gaya permainan Sarrismo. Juventus praktis hanya merekrut Danilo, Matthijs de Ligt, Aaron Ramsey, dan Adrien Rabiot pada musim panas 2019.

Tiga dari empat nama yang didatangkan lebih condong untuk memperkuat pertahanan. Apalagi, stok pemain di lini tengah lebih banyak merupakan petarung, bukan gelandang kreatif seperti keinginan Maurizio Sarri. Praktis hanya Rodrigo Bentancur, Miralem Pjanic, dan Aaron Ramsey saja yang bisa mengalirkan bola.

Juventus sudah menyiasati kekurangan itu dengan merekrut Arthur Melo dari Barcelona. Pemain berpaspor Brasil itu dianggap sangat cocok dengan filosofi permainan menyerang Sarrismo. Selain pandai mencari posisi, pemain berusia 24 tahun itu juga andal dalam mengalirkan bola.

Meski para pemain tidak sesuai dengan gaya permainannya, Maurizio Sarri mampu beradaptasi dengan baik. Kendati sempat tersendat, pakem 4-3-1-2 yang dipakainya secara perlahan bisa dipahami pemain. Formasi tersebut sengaja dipakai demi mengakomodasi tridente Cristiano Ronaldo, Paulo Dybala, dan Gonzalo Higuain.


[ad_2]