[ad_1]
TURIN – Inter Milan di awal musim ini disebut-sebut akan jadi pengganjal dominasi Juventus di Liga Italia. Aktivitas transfer di musim panas 2020 dan hasil di dua laga awal Liga Italia 2020-2021 menjadi tolok ukur Nerazzurri –julukan Inter– dijagokan menghentikan dominasi Juventus di Liga Italia yang berlangsung dalam sembilan tahun terakhir.
Namun, kepantasan Inter Milan menjadi calon kuat pengganjal langkah Juventus langsung menguap setelah Romelu Lukaku dan kawan-kawan bermain 1-1 kontra Lazio di pekan ketiga Liga Italia 2020-2021 akhir pekan lalu. Padahal, Lazio tidak dalam kondisi mental terbaik karena pada pekan sebelumnya baru saja dihajar Atalanta 1-4.

(Inter Milan disebut calon kuat pengganjal dominasi Juventus di Liga Italia)
Karena itu, andai Juventus menang 2-0 atas Napoli di laga tunda, Bianconeri –julukan Juventus– otomatis sudah melewati Inter di papan klasemen Liga Italia 2020-2021. Sekadar informasi, Juventus mengemas empat angka di dua laga awal dengan mengalahkan Sampdoria 3-0 dan bermain 2-2 kontra AS Roma.
Sekarang yang jadi pertanyaan, cuma hukuman degradasi yang mampu menghentikan dominasi Juventus di Liga Italia? Tentu, kejadian miris yang dialami Juventus 14 tahun lalu tak ingin dirasakan manajemen maupun fans si Nyonya Tua.
Saat itu kepolisian Italia mengungkap praktek haram yang dilakukan CEO Juventus Luciano Moggi dan salah satu direktur si Nyonya Tua saat itu, Antonio Giraudo. Pada musim 2004-2005 dan 2005-2006, keduanya kerap menghubungi beberapa pejabat sepakbola Italia (FIGC). Mereka lantas memiliki power untuk menunjuk wasit yang memimpin pertandingan Juventus di Liga Italia.

(Luciano Moggi dihukum seumur hidup dilarang berkecimpung di dunia sepakbola)
Ujung-ujungnya di atas lapangan hijau, Juventus kerap diuntungkan wasit yang dipesan Luciano Moggi tersebut. Namun, praktek ilegal Luciano Moggi terbongkar. Praktek ilegal yang dibuat petinggi Juventus saat itu biasa disebut Calciopoli atau pengaturan skor.
Akibatnya, dua gelar Liga Italia yang didapat Juventus pada 2004-2005 dan 2005-2006 dilucuti. Gelar Liga Italia 2004-2005 dibiarkan kosong, sedangkan trofi 2005-2006 diberikan kepada Inter Milan.
Tidak sampai di situ, Juventus juga dipaksa turun kasta ke Serie B. Mereka pun memulai Serie B 2006-2007 dengan posisi minus 30 poin. Namun, setelah banding Juventus memulai kompetisi dengan kondis minus 9 poin.

(Del Piero salah satu pemain andalan Juventus saat itu)
BACA JUGA: Capello Ungkap Kenapa Inter Jadi Lawan Utama Juventus di Liga Italia 2020-2021
Terlepas dari kasus Calciopoli yang ada, sebenarnya skuad Juventus saat itu sangat kuat. Tampuk kepelatihan Juventus saat itu dipegang Fabio Capello, pelatih yang berpengalaman membawa AC Milan juara Liga Italia dan Liga Champions.
[ad_2]




