[ad_1]
LISBON – Berbeda dengan musim-musim sebelumnya, dalam gelaran Liga Champions 2019-2020 pertandingan hanya dilangsungkan satu leg mulai babak delapan besar dan digelar di satu tempat yang netral. Sistem tersebut sejatinya diterapkan karena situasi yang mendesak akibat terjadi pandemi Corona.
UEFA sengaja menerapkan sistem tersebut karena mereka diburu waktu untuk segera menyelesaikan kompetisi. Sebab, mulai September 2020 kompetisi untuk musim yang baru sudah harus dijalankan.
Kendati demikian, siapa sangka bahwa pertandingan dengan sistem satu leg tersebut menuai sukses besar. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, bahkan mengakui bahwa pertandingan dengan sistem satu leg membuat turnamen menjadi semakin menarik.
Baca juga: Juara Liga Champions Bareng Bayern, Juventus Lakukan Kesalahan Lepas Coman

Tim-tim pasalnya dituntut untuk tidak melakukan kesalahan. Karena tak akan ada leg kedua untuk memperbaiki hasil. Dengan demikian, tim yang kalah pada pertandingan tersebut akan langsung tersingkir dari turnamen.
Maka dari itu, Ceferin pun memiliki ide untuk kembali menerapkan sistem tersebut di masa depan. Meski begitu, nyatanya terdapat sejumlah halangan sehingga penerapan sistes satu leg harus didiskusikan lagi.
Halangan terbesar tentunya datang dari pihak penyiar. Karena, jika pertandingan hanya dilangsungkan satu leg, maka jumlah laga yang dimainkan tentu lebih sedikit. Dengan demikian, pihak penyiar jelas akan mendapat kerugian.
[ad_2]



