Ketika Arsenal Memburu Roh Daya Saing

[ad_1]

David Luiz pun kerap cuek meninggalkan daerah pertahanannya karena jengkel dengan kinerja rekannya di barisan gelandang. Bukan hanya Luiz, hampir semua lini bermain tanpa disiplin dan arahan yang homogen layaknya di era keemasan Wenger pada angkatan Patrick Vieira. Nah, uniknya Ljungberg sendiri adalah bekas bagian dari golden era Arsenal tersebut.

Kesan kuat bahwa rezim chairman Sir Chips Keswick bermaksud mengulangi nostalgia era keemasan tersebut lewat Ljungberg sangat terlihat di sini. Menurut saya, roh daya saing Arsenal hanya bisa kembali melekat kepada klub berlogo meriam tersebut bila klub dipimpin seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan dan disiplin yang tegas.

Dari sejumlah nama yang telah masuk bursa, saya menilai Rafael Benitez dan Mauricio Pochettino adalah orang yang memiliki syarat ini, tapi sayangnya mereka juga sosok yang sekaligus bermental manajer sesungguhnya, alias ogah diatur-atur para direktur bak seorang head coach biasa. Tanpa mengubah mindset klub dari level owner, sulit bagi Arsenal untuk mengubah club culture yang telah terlanjur terdegradasi sekarang ini.

Liverpool bisa melakukan sebuah revolusi dengan Jurgen Klopp dalam kurang dari lima tahun karena manajemen The Reds memberikan keluangan bagi pelatih asal Jerman itu untuk mengambil kendali klub sepenuhnya, lalu apakah Stan Kroenke bisa legawa melakukannya di Arsenal? Sebagai seorang kapitalis sejati asal Amerika Serikat, menurut saya ia hanya peduli pada laba sembari kadang-kadang mendengarkan suara fans yang menjadi pembeli cinderamata dan tiket terusan. Raihan gelar bukan prioritasnya saat ini. Percayalah, saya sudah lebih dari satu dekade mengamati pola-pola yang sama di North Londoners kerap berulang.

*Penulis adalah wartawan, VP Operations dan Editor in Chief untuk Onlinefitnessprofits.com serta Bola.net, kolom ini berisi wawasan pribadi yang terlepas dari sikap kolektif insitusi.

[ad_2]