Sampai Kapan Jose Mourinho Jadi Mister Nice Guy?



Berkat jam terbang sebagai narasumber sepak bola di televisi, Mourinho pun terpantau Levy menjadi sosok yang lebih lembut bertutur kata dan berempati pada orang lain. Karena tak suka dikritik, ia pun berhati-hati mengomentari kinerja wasit saat menjadi komentator laga antara Liverpool dan Manchester City.

Sependapat dengan koleganya di layar kaca saat itu, Roy Keane, Jose mengatakan alih-alih membicarakan kontroversi keputusan sang pengadil untuk tidak memberi hadiah penalti bagi The Citizens sebaiknya forum membicarakan betapa baiknya Liverpool bermain ketika menggilas City 3-1 saat itu. Sebagai pelatih Spurs sejauh ini, Mourinho pun cenderung tampil dengan positif dalam berbagai kesempatan. Tapi tunggu saja bagaimana reaksinya bila menghadapi pertanyaan sulit dari nyamuk pers. Ia perlu berhati-hati dengan perangkap yang dipasang para pewawancara.

Tidak akan ada yang meragukan kemampuan Jose Mourinho sebagai arsitek tim, yang di kancah Premier League saja sudah mengantungi tiga piala. Akan lebih mulia lagi baginya bila kualitas brilian sosoknya sebagai manusia terpancar dari tutur kata yang santun dan tidak menyakiti siapapun. Provokatif boleh, karena dunia sports tanpa bumbu provokasi ibarat sayur tanpa garam. Akan tetapi, tidaklah perlu menyerang pribadi atau institusi, apalagi sampai mengeluarkan ejekan. Welcome aboard Mister Nice Guy, dan jangan mudah terprovokasi!

*Penulis adalah wartawan, VP Operations dan Editor in Chief untuk Onlinefitnessprofits.com serta Bola.net, kolom ini berisi wawasan pribadi yang terlepas dari sikap kolektif insitusi.